Pages

Selasa, 15 Oktober 2013

Usang

Written by: Erliza Cikal at 20.49

Aku tertegun sore itu, kala hujan dengan derasnya mengguyur dan laki-laki itu menghampiriku di depan pertokoan; menawarkan payung dan bertanya apakah aku mau ke arah stasiun; kalau iya, artinya kita akan ke arah yang sama. Aku sempat menaruh curiga, tatapi sororotan kedua manik itu begitu teduh membuatku memberi anggukan kecil tanda persetujuan. 
 
Payungnya cukup lebar untuk menaungi kami yang mulai menyebrang jalan menuju stasiun kereta bawah tanah. Langkahnya lebar-lebar dan sigap, membuatku berhati-hati agar tak terpeleset. Setelah sampai aku tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. Ia melihat jam tangan, balas senyum kemudian menuju salah satu kereta sore, tanpa sempat memperkenalkan diri.

Hari berikutnya ketika aku menuju stasiun bawah tanah yang sama, ia muncul lagi, membukakan pintu masuk dan tersenyum dengan ramah. Kaget bercampur penasaran, aku bertanya padanya apakah ia bekerja disini. Ia tertawa. Secara otomatis tawa renyahnya membuka obrolan sekaligus perkenalan kami sore itu -karena kebetulan kereta berbeda jurusan yang kami naiki tiba 20 menit lagi-. Dan ternyata ia adalah manager baru dari Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan automotif di depan stasiun ini. Ia tinggal di Jepang bersama rekannya karena tak ada sanak keluarga yang bermukim disini.

Cara bicara yang sopan, sorot mata yang teduh, serta senyuman yang menular, membuatku terpana sepanjang perbincangan, jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, rasanya ada sekumpulan kupu-kupu yang mengepakkan sayap diperutku. Waktu terasa begitu cepat ketika kemudian ia melambaikan tangan dan berkata bahwa kereta masing-masing telah tiba.

Begitu seterusnya pada hari-hari berikutnya. Aku mulai terbiasa dengan keramahannya. Hingga suatu hari di musim panas, aku tidak melihatnya membukakan pintu untukku dan menunggu kereta di bangku itu seperti biasanya. Ah mungkin ia sedang kembali ke Indonesia; menikmati libur musim panas yang sangat singkat disini. Aku mengambil smartphone dari saku baju, mengiriminya sebuah e-mail kemudian menaiki kereta sore dengan perasaan hampa.

Dan e-mail yang kuterima malam ini adalah kabar yang seharusnya gembira. Seharusnya. Layar ponsel yang kugenggam mendadak menjadi kabur. Aku membaca pesannya berulang kali, tulisannya tidak sedikitpun berubah. Tiba-tiba sebutir air mendarat diatas layar ponselku. Aku tidak seharusnya bersedih karena disana ia past sedang berbahagia. Bulan depan ia akan menikah dengan wanita Indonesia, isyarat perpisahan darinya; Ia takkan pernah kembali ke Jepang, keputusannya sudah bulat kalau ia dan keluarga barunya akan menetap di negaranya, Negara Jamrud Katulistiwa .

Dari awal, seharusnya aku tak menamai perasaan ini. Tidak mengakhayalkan bahwa diriku ada dalam posisi istimewa dibenaknya. Tidak menutup mata bahwa keramahan, senyum, dan sorot matanya mulai sekarang dan selamanya adalah milik orang lain. Mungkin ini hanyalah sebatas kekaguman sesaat. Seharusnya aku tidak sekecewa ini menghadapi apa yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku.

Sepekan kemudian, setelah berhasil merenungkan semuanya dan meyakinkan bahwa aku baik-baik saja, aku membalas e-mailnya dan memberinya ucapan selamat sambil menawarkan seandainya ia dan keluarganya akan berlibur ke negara ini, rumahku selalu terbuka kapanpun untuknya. Kalimat itu kuketik dengan perasaan yang mati-matian kutahan agar tidak hancur.

Bagaimanapun juga, tebing itu terlalu tegak berdiri, mengangkuhi apa saja yang ada dibawahnya. Kalau perpisahan itu menyedihkan, maka ada sebuah pertemuan yang menghasilkan kebahagiaan. Jika bukan saat ini, nanti pasti akan datang. Karena ketika aku berhasil memanjat tebing itu, bukankah dunia terlihat kecil ditelapakku? Bukankah kamu hanya salah satu dari sekian banyak kerikil ditengah jalan yang berjatuhan ketika kutapaki? Easy come and easy (to) go.

Yogyakarta, 20 Agustus 2013 with revision.

1 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea