Pages

Senin, 24 Februari 2014

Melodi Tertahan

Written by: Erliza Cikal at 13.42

Guyuran air dari langit membatalkan janji embun dan teratai, menahan induk elang menyuapi bayinya yang lapar, dan menyebabkan seluruh badan ini kuyup gemetar. Aku suka menunggui hujan, ia datang dengan irama yang sulit dipastikan. Isyarat petir dan halilintar membuat pekik tertahan, langit yang nampak tersenyum cerah mengeluarkan rintik perlahan; memainkan melodi kesepian.



Aku menengadah menatap atap biru, menunggui jikalau ada satu tetesan yang mendahului kelabu, memejamkan mata sambil menikmati setiap rintik yang mulai jatuh. Dan benar saja, sejurus kemudian langit mengganti kanvasnya dengan warna abu-abu diiringi tempo cepat dari guyuran air mendentum permukaan tanah.



Rasanya, aku dan hujan telah menyatu dalam melodi rintihan yang tertahan. Hujan menenggelamkan deras butiran yang timbul dipelupuk mata. Membuat bibir ini melepas senyum getir pada awan. Menceritakan segala dera yang tak mampu dirapalkan perasaan. Menghantam segala perih yang kadang susah mati dipendam.



Ranting-ranting diseberang sana menertawakan si pengecut ini. Bisanya cuma mengandalkan jeritan ditelan hujan. Seperti tak mampu mengadu pada mentari yang selalu menawarakan benderang. Padahal hujan tidak selalu datang; tidak seperti gundah yang tak berkesudahan.

Pinjam payungnya, jika kelak aku mampu menghalau hujan karena aku bisa mengadapi rintih ini sendiri. Meski senyum getir susah payah kusunggingkan.

0 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea