Pages

Selasa, 18 Maret 2014

Perempuan di Sudut Sini

Written by: Erliza Cikal at 12.44


­­

­­

­Perempuan disudut sini, yang masih menatap tengkukmu yang tinggi. Ingin menutur tapi tak cukup nyali. Ingin lambaikan tangan tapi enggan terabai. Mengaku tak ambil peduli padahal titik lokasimu selalu menjadi fokus mata ini.
          
Letih sudah perempuan itu menduga. Pergulatannya dengan nurani hanya memberikan tanda tanya yang tak kunjung bermuara pada sebuah fakta. Membaca pikiran seseorang ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Apalagi yang terbayang hanya praduga tak terbukti. Coba kau tilik kembali catatanmu yang telah usang, tak lihatkah namamu terpatri dengan tinta merah dengan predikat ‘penghilang ulung’?
           
Ini bukan masalah aku percaya atau tidak, tapi tentang kejujuran binar matamu. Sebab, kata tak mengakar kuat menembus tanah. Sewaktu-waktu dapat musnah bila tertiup angin. Janganlah memberi perempuan itu awang semu jika memang tak sanggup memberi mampu.
          
Semua tuturmu yang kau sebut kejujuran kembali membuat perempuan itu gamang. Ternyata kau telah jauh melangkah memasuki istananya. Melewati beberapa prajurit yang berjaga ketat dengan begitu mudahnya. Memberinya kesempatan untuk percaya kepadamu. Meski tanpa jaminan apa-apa. Ah sudahlah, sekarang segalanya telah berganti terlanjur.
           
Tinggal bagaimana menyadarkanmu dari lamunan yang tak kunjung usai. Meracau tak jelas bak bermimpi di siang bolong. Upayaku menceramahimu memang sudah berkali kulontarkan, tapi selalu saja memental dari gendang telinga. Seperti arakan kereta uap sepintas lalu. panjang dan sesaat, tak bermakna. Sampai kapan kau mempertahankan bebalmu? Tak malu menilik buku harianmu yang telah usang? Tak sadarkah kau telah membuat perempuan disudut sini menunggu?

0 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea