Pages

Senin, 17 Maret 2014

Menunggui Petikan Megawarna

Written by: Erliza Cikal at 11.56
Seharusnya, aku lebih paham sekarang. Mengapa ketika kuterbangkan biji kemudian kau tanam, kau tak pernah mengajukan asal muasalnya. Hanya diam dan menerima.

Aku tahu sekarang, bahwa tumbuhan yang dirawat selama bertahun-tahun akan berbunga lebih banyak bila dirawat dan pupuk setiap harinya. Memang ada kalanya ketika musim berganti, beberapa bunga berjatuhan dan layu kemudian.

Lalu frase mana lagi yang perlu dijabarkan dengan diksi agar membuatku mengangguk paham? Filosofi lagi? Ah tidak, aku sudah muak dengan kata yang terbuang percuma, tidak ada aksi, tidak ada bukti. Setujukah kau denganku? Tidakkah kau paham bahwa rimbun pepohonan mengawasimu dan bercerita kepadaku lewat melodi hantaran angin? Menceritakan tentangmu yang selalu setia pada tanaman itu meskipun ia tak dapat berbicara kepadamu; ada aksi, seakan tak ada reaksi.

Lalu, wajarkah bila muncul praduga? Atau inikah kekaguman dalam diam? Yang jelas, meski kau tak menaruh peduli pada awan bentuk teropong bundar yang mengintai punggungmu setiap waktu, ada sesuatu dibalik sana, menunggui kuncupmu mekar meski ia tak pernah mengaku padamu. Meski ia simpan sendiri percikan mentari yang kadang membakar ubunnya. Yang ia tahu, kau akan tetap setia menjaga tanamanmu walau entah pada musim apa bunga itu akan kau petik. Inilah yang disebut-sebut keikhlasan? Kau ikhlas merawat tanamanmu dan aku ikhlas megagumimu...

0 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea