Pages

Sabtu, 26 April 2014

Merindu Mendung

Written by: Erliza Cikal at 07.14

Mendung sedari tadi membingkai langit, menandakan rintik air akan turun ke bumi sebentar lagi. Dan sejurus kemudian air langit datang dengan irama lambat. Ricik demi ricik pada mulanya, deras mendentum tanah kemudian.

“Ini semua salahmu,” Quera menatap sebal pada Rahul, “seandainya kau tak merusakkan sepedaku, sekarang aku pasti sudah tiba di rumah menikmati hujan dengan secangkir susu hangat buatan bunda,” Quera pasang wajah sok jutek, terpaku pada tirai air yang menjuntai dari langit hingga tanah melalui balkon lantai dua gedung sekolah.

“Aku sudah minta maaf bukan? Kau seharusnya berterima kasih padaku, aku mau repot-repot menemanimu melakukan sesuatu yang sangat konyol seperti ini dan kau malah menatap hujan dengan wajah berbinar-binar, hal yang tak lazim dilakukan gadis berusia 16 tahun,” Rahul tersenyum penuh kemenangan diakhir ucapannya.

Padahal ia tahu, gadis berlesung pipit disampingnya sangat mengagumi hujan. Kerap ia mendapati Quera sedang menatap rintik hujan dengan wajah takjub, seperti anak kecil yang bangga mainannya bisa bergerak. Suatu hal yang diam-diam membuat Rahul rindu hujan turun, agar dapat melihat binar itu, binar dari sepasang manik budar Quera yang menjelma menjadi candu baginya.

“Hei, seorang seperti kau berbicara mengenai usia? Coba ngaca dulu, mana ada cowok umur 16 tahun yang begitu tergila-gila pada power ranger?” skak mat bagi Rahul. Ia diam saja menunggu omelan berikutnya dari Quera. Dan benar saja.

“Kalau kau tidak mengerti apa makna hujan bagiku lebih baik kau diam saja, jika tidak mau kujatuhkan dari balkon ini”. Quera cemberut, percikan air yang sedari menciptrati ujung balkon membuat basah lantai sekitar. Sepertinya berdiri memangu hujan dan terkena percikannya belum cukup membuat Quera puas merasakan rintik air yang memantul ke wajahnya.

Gadis itu menjulurkan tangannya melewati balkon, merasakan tiap tetesan air hujan yang meresap ke kulit, menimbulkan sensasi dingin yang digantikan kesejukan serta esensi berbeda bagi dirinya.

“Kau pikir hujan selalu indah-indah saja? Apa kau lupa ada petir, halilintar, dan kiat yang kadang membuatmu memejamkan mata sambil merapal doa agar diselamatkan darinya?” tanya Rahul seakan belum jera mendengar ceramah Quera barusan tentang kegemarannya.

“Terkadang, apabila kau sudah menyukai sesuatu, kau harus terima segala konsekuensinya, bukan? Segala hal itu seperti dua sisi mata uang, ada baiknya pasti tak luput dari kekurangan. Kau tak bisa menikmatinya dari satu sisi saja. Hujan memang syahdu dan menyejukkan, tapi apa esensinya hujan jika tidak ada sensasi kilat, petir, halilintar, bahkan dingin yang kadang membuat ngilu tulang? Dan aku hanya menikmatinya, begitulah caraku mencintai hujan.” Gadis itu tersenyum sambil memejamkan mata, syal kuningnya melambai dipermainkan angin, tetapi tak nampak kedinginan.

Rahul menatap Quera lamat-lamat. Begitu sederhana jalan pikirnya. Tanpa disadari, laki-laki itu tersenyum menatap gadis disampingnya, hanya sekelebat saja sebelum akhirnya Quera membuka mata.

“Apa?” Quera menatap Rahul dengan ekspresi bingung.

“Lucu.”
 
“Hah, siapa?” Quera mengangkat alis.

“Kau itu. Kau tetap saja konyol.” Rahul tergelak menutupi rasa canggung yang tercipta beberapa detik lalu. Diluar perkiraan, kali ini Quera ikut tertawa.

Malas membalas dengan kata-kata, ia mencipratkan air yang tertampung di kedua telapak tangannya yang masih menjulur. “Pyur” serangan dari Quera tepat membasahi wajah Rahul. “Buah,” hanya itu kata-kata pertama yang Rahul ucapkan setelah percikan air membasahi wajahnya. Ia hampir tersedak karena menelan air hujan.

“Tunggu pembalasanku!” Rahul tertawa lepas, mengejar Quera yang berlari menyusuri lorong-lorong. Menikmati setiap momen yang sebentar lagi akan berakhir mengingat awan cumulus nimbus akan digantikan dengan awan altocmulus. Dan pelangi disudut sana menjadi saksi tentang tawa yang sedang dihambur-hamburkan, tentang si pengagum rahasia dan pecinta hujan.

Merindu langit mendung,
Yogyakarta,
26 April 1014

0 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea