Pages

Selasa, 29 Juli 2014

Sandiwara

Written by: Erliza Cikal at 01.01
Image Source : tumblr

Tidakkah kau lelah bersembunyi dibalik semua senyum palsu yang kau paksakan tanpa binar dari kedua bola matamu? Sadarkah engkau bahwa lingkaran hitam di bawah kelopakmu mampu menjelaskan banyak hal ketimbang ucapan-sok-baik-baik-saja versimu? 

Sudahlah tak usah berdusta, aku mengerti kau tak terbiasa berteman dengan hampa. Eh jangan-jangan keramaian hanya merupakan salah satu penghibur diantara kesepian yang sehari-hari menghinggapi? Pelarian mungkin? Lihat tuh, topengmu sudah compang-camping. Masih sanggup berakting?

Kau bilang padaku jangan menatapmu seolah kau sudah putus asa. Kau bilang padaku bahwa aku terlalu berlebihan menanggapi semuanya. Kau yang selalu sok kuat. Sok tegar. Sok ceria. Sok tak butuh bantuan. Tak lihatkah bahumu mulai membungkuk akibat banyaknya beban yang kau pikul seorang diri; sedang manusia disekitarmu enggan ambil peduli. 

Aku memang tidak mengatakan kau selalu sendirian. Sering kali aku melihat kau satu rombongan bersama teman-temanmu. Tertawa lepas sampai lingkaran hitam dimatamu tersamarkan oleh wajah cerahmu. Kau yang berusaha menutupi segala bengkak. Berusaha menyenangkan orang lain meski hatimu sedang remuk. Berusaha tampak baik-baik saja padahal asa sudah melapuk. Ya, kau selalu pandai menampik.


Hei, Tapi kemana teman-temanmu yang berjubelan? Kenapa malah kesepian yang menjadi teman bicara? Memangnya aku tidak sadar, meski kau menelungkupkan wajah rapat-rapat, bahumu yang naik-turun menjelaskan; kau sedang terisak disudut sana. Dan tak seorangpun menghampiri apalagi paham. 

Kau selalu berpossitive thinking bahwa kau sulit dipahami mereka. Ya. Dikau selalu berkamuflase dengan topeng-topeng itu, meski kali ini juga sadar; mereka tidak tuli, pasti ada suara yang bisa di dengar. Lantas, mana teman-teman yang kau banggakan itu? Apakah mereka hanya mengelukan namamu pada pertunjukkan tertentu? Sedang pada musim ini menghilanglah mereka ditelan tepukan riuh rendah yang memuakkan? Dirimu sebenarnya tahu, tapi tetap saja tak mau tahu.

Aku tahu amunisimu hampir habis. Senapan secanggih apapun bila tanpa peluru, tak ubahnya pistol mainan, bukan? Tapi kau selalu punya sejuta wajah untuk ditampilkan ditengah permainan sandiwara yang sedang berlangsung. Katamu hidup adalah pementasan sandiwara orang-orang sekitar. Kalau begitu, ajari aku menyiasati hari-hari!


Yogyakarta, 26 Juli 2014
Ini monolog atau cuma catatan belaka?
Entahlah, sedang cuti bepikir.

0 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea