Pages

Kamis, 23 Juli 2015

Bandana Kupu-kupu

Written by: Erliza Cikal at 18.37

Kebanyakan orang menjejalkan telinga mereka dengan tembaga bulat berbuntut kabel yang ditancapkan pada ponsel pintar atau alat elektronik khusus yang menyediakan fitur pemutar suara, mendengarkan alunan musik katanya, telinganya dibuat tuli terhadap sekitar. 

Desahan dahan yang dimainkan angin atau riak-riak air kolam itu adalah satu-satunya suara yang memecah keheningan, terlepas dari lalu lintas beberapa kilometer di depan sana. Tidak perlu berpura-pura punya kawan kalau jelas-jelas sepi kawan terbaikmu.

Aku bisa melakukan apapun yang kusukai bersama sepi. Acap kali bersiul mengikuti cicit Burung Gereja, atau hanya sekedar berbaring di rerumputan, menikmati resonansi syahdu yang diciptakan sang Maestro Alam Semesta. Siapa peduli? (err kecuali bapak-bapak pemilik tambak ikan di bawah yang tidak banyak bicara, mungkin beliau sudah maklum).

Aku merebahkan tubuh diatas permadani hijau  yang agak landai, sungai mengalir lambat di bawah kaki. Agak ketengah arus membelah lembut pada petak-petak yang ditinggali beberapa jenis ikan. Lalu tiba-tiba ada yang janggal. Angin tidak lagi menggelitik dari sudut bias matahari.

“Sudah berapa lama kau disini?”


“Sampai kau menyadari bahwa aku disini,”

Aku bergeming, membiarkan jawabannya menggantung di langit. Tidak perlu membuka mata atau menoleh untuk menerka jasad yang kini duduk beberapa depa dari tempatku berbaring. Jenis suara serta aroma musk yang begitu familiar bisa mengungkap perihal pemilik nama. Tujuh hari lenyap tanpa menyisa kabar. Eh, siapa peduli? Toh aku juga lebih senang sendiri.

“Tidak ingin bertanya kemana aku pergi,”

“Nope,” aku sudah tahu jawabannya. Satu kali mencicip langit dari ketinggian ribuan meter diatas laut membuatnya menjadi pecandu raksasa angkasa. Kulit sawo matang serta bibir pecah-pecah yang menghitam termasuk harga yang harus dibayar untuk sebuah kesyahduan mengagumi karya-Nya dari atas sana.

“Kau tidak suka aku disini?,” ia mengucapkannya dengan intonasi dibuat-buat, sok sedih, tentu saja aku tahu. Kalau ia mengikuti casting sebuah drama, aku yakin ia ditolak mentah-mentah. Aktingnya benar-benar buruk.

Tetapi itu berhasil mencairkan sarkatisku. Aku tertawa. Sadar. Aku merindukannya.

“Kalau kau terus-terusan begitu, tidak heran semua cewek menolakmu,”

Ia tertawa, memberi jeda sedikit sampai akhirnya bicara lagi.

“Memangnya aku pernah nembak cewek?”


Eh? Sebetulnya aku tidak membutuhkan jawabannya, hanya ingin mengolok. Kemudian aku ingat, kita sama-sama tak senang membahas privasi. Atau seyogyanya tidak pernah benar-benar tahu urusan pribadi masing-masing. Makdsudku, untuk hal-hal seperti ini tidak perlu menyediakan waktu khusus untuk membahasnya. Karena biasanya, tanpa bertanya, selalu ada penjelasan terkapital ekspresi.Ya, itulah yang kusuka darimu.

“Mana kutahu,” aku hanya mengedikkan bahu. Sebetulnya tidak terlalu peduli dengan pertanyaanku sebelumnya.

Ia tersenyum, sadar pertanyaanku retoris. Tiba-tiba ia mencari-cari sesuatu dalam tas slempangnya.

“Ini buatmu,” ia mengulurkan sebuah bandana hitam polos dengan ornamen kupu-kupu ungu cantik di tiga perempat ujungnya.

“Dari mana kau mendapatkannya? Pasar kaget?,” tadinya aku pikir ia akan tertawa, membalas ledekanku. Tapi ia bergeming.

“Anggap saja oleh-oleh. Maaf tidak mengirimkan kertas atau foto dari ketinggian itu. Terlalu mainstream. Jangan minta edelweiss, aku tidak terlalu percaya ia abadi setelah dicungkil dari akarnya. Bandana ini aku beli di perjalanan pulang. Selamat ulang tahun, Ka, maaf tidak sempat dibungkus,”

Aku tertegun, agak tersentuh dengan penuturannya, sampai tiba-tiba ia berkata,

“Lima belas ribunya dituker sama semangkok bakso Pak Min aja ya,” ia buru-buru bangkit sebelum kupukuli, berlari mengambil sepeda dan mengayuhnya dengan santai. Menerbangkan beberapa anak rambutnya.

Jingga sebentar lagi tenggelam, hangat akan segera menyingkir. Aku tersenyum, diam-diam menyematkan bandana pada rambutku yang tergerai. Pernak-pernik khas perempuan petama yang kupakai seumur hidup. Bisa diledek habis-habisan kalau adik dan masku melihatnya. Ah, tapi malam ini gelap, semoga tidak ada yang menyadarinya.

Ya, semoga tidak ada yang menyadari frekuensi aneh yang merambat dalam dada.

"Buruan Giska!" Ia mengerem sepedanya sepuluh meter dari arahku berdiri, aku bergegas mengambil sepeda yang tergeletak tak berdaya di rerumputan. Berniat mengejarnya dan menjitaknya.



Hey, ternyata ada yang lebih menyenangan dibanding bercengkrama dengan sunyi!

0 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea