Pages

Jumat, 21 Agustus 2015

The Dearest Oklahoma

Written by: Erliza Cikal at 20.23
Source here

Sepasang burung pipit kala itu, menggepakkan sayap coklat-kelabunya yang mungil, saling menatap di rerumputan sambil bertukar cicit.

Ia duduk, tidak banyak bicara. Mengulurkan sebungkus bakso bakar yang masih hangat.

 “Ini yang paling enak kata temanku,” aku menerima ulurannya, mencomot sebagian. Dan aku pikir, temannya benar.

Sore itu, di tengah para pemanah, para pemain futsal, pelari, maupun kanak-kanak yang sedang belajar berdiri, dari arahku melihat, kau bersinar diterpa matahari sore, yah, setidaknya matahari bertahta di belakang rambut legammu.

Ini adalah momen langka. Di lapangan serbaguna dimana sudut-sudutnya diberi bangku bertingkat mirip stadion ini, sebuah ketukan datang. Mempersilakanku menyelam ke sisi lain dirimu.

Salah satu burung pipit itu terbang rendah. Tadinya kupikir pasangannya akan mengejarnya. Ternyata tidak.

“Entahlah, hanya saja aku merasa nyaman menjadi diriku sendiri. Diriku yang sekarang,”
Ucapmu sambil menerawang setelah memaparkan bemacam sebab yang tersembunyi dibalik karena.

“Hey, sama sekali tidak ada salahnya, sudah besar harus sudah bisa memijak. Eh, tapi siapa yang tahu lima tahun lagi? Sepuluh bahkan? Bisa saja kamu berubah pikiran,”

“Yah, siapa tahu,” kau mengedikkan bahu, tertawa renyah. Mengumpulkan sisa-sisa semangat yang terkumpul pada sebuah pusat di tubuhmu.

Tak berapa lama, seekor burung dari famili Passeridae yang berdarah eurasia itu bercicit riang menghampiri pasangannya sebelumnya. Berkejaran, kemudian mengangkasa bersama.

Did you know? Justru semudah itu menemukan rumah.

Yogyakarta, 18 Agustus 2015 

0 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea