Pages

Selasa, 25 Juli 2017

Cara Bunda Melukis Sore

Written by: Erliza Cikal at 16.56
Ini mami sama aku. Tapi nggak lima belas tahun yang lalu, sih. Tapi yang jelas waktu itu belum akil balig, jadi belum pake jilbab deh. Hehehe.
Ada saat-saat dimana sore begitu menakjubkan bagiku. Memberi alasan bagaimana cahaya jingganya mampu membuatku enggan melihat gelap.

Rinduku membuncah kala kenangan lima belas tahun silam itu tergambar dengan sangat jelas dalam benak.

Kala itu, aku masih cukup enggan mengelap ingus yang meler sampai turun ke baju biru yang sering ku kenakan. Atau cukup cuek bila bunda memadu padankan atasan dan bawahan menurut seleranya (tidak banyak protes ketika dipilihkan baju, tidak seperti sekarang).

Sore yang cerah di sebuah pusat keramaian kota (jangan berpikir aku bisa tahu langit cerah kalau berada di mall). Keramaian kota yang kumaksud adalah alun-alun kota. Tempat dimana kanak-kanak pada saat itu bisa tertawa puas mengudarakan layangan, atau hanya sekedar tidur-tiduran di rumputnya yang hijau.

Bunda melihatku bosan. Sekotak pastel dan buku gambar lengkap dengan meja gambarnya bunda keluarkan dari tas yang sedari tadi dibawanya.

Bunda tersenyum. Bunda bilang langit itu indah. Seindah sore saat aku berada disampingnya. Kemudian bunda mulai melukis seperti seorang pelukis profesional. Aku tertawa.

Lukisan bunda bagus. Bunda menggambar langit jingga yang melatari kebahagiaan alun-alun sore ini.

Satu dua teman sebayaku (atau lebih kecil?) berkerumun. Menunjuk-nunjuk lukisan bunda. Aku tersenyum. Memandangi bunda yang terus melukis tanpa memedulikan sekitarnya yang mulai membentuk kerumunan.

Aku tahu bunda bukan pelukis sebagaimana standar pelukis pada masa itu. Tapi aku juga tahu, lukisan bunda memang selalu membuatku takjub. Bunda seperti bisa melukis apapun! Membuatku bahagia karena cerita-cerita dibalik lukisannya.

Kala itu, aku juga suka melukis sedikit-sedikit. Tapi tentu saja, tidak sebagus lukisan bunda. Tapi bunda selalu bilang lukisanku bagus. Sebagaimana ia bilang bahwa aku anak kesayangan bunda di seluruh dunia (ya iyalah, kan cuma aku anaknya. hehe)

Ketika itu, aku belum paham. Bahwa bunda mengajarkan betapa kebahagiaan bisa dengan mudahnya diselipkan ke hal-hal yang kita sukai. Dan melihat bunda melukis dan bernyanyi (kapan-kapan akan ku ceritakan betapa hebatnya vokalis band favoritku ini diatas panggung) selalu menghadirkan kebahagiaan untukku.

Kangen banget sama bunda yang lagi jauh, yang sukanya ngirimin rekaman suaranya lewat aplikasi karoke Sumule. Haha!

Semoga sehat selalu, bunda, yang biasa aku panggil mama (tapi belakangan minta dipanggil mami).

Love you sampai ke alun-alun planet Mars!

0 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea