Pages

Minggu, 23 Juli 2017

Wanita di Tepian Zenit

Written by: Erliza Cikal at 11.58


Judul postingan ini sedikit banyak terinspirasi dari salah satu tetralogi novel fenomenal karya Andrea Hirata, berjudul Edensor. Ya entah itu fenomenal atau tidak, yang jelas hal itu tidak banyak memengaruhiku dalam membaca novel ataupun menulis tulisan ini. Yang jelas, tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata memang benar-benar keren!

"Weh's final message, zenith and nadir, pierced my heart like the cogongrass root that pricked my legs. I would have to explore the world, rove about the foreign lands promised by dreams, and meet a girl who would leave me pained with love because of tortuous desire, before I could understand those mysterious words."

Yaps, meskipun aku tidak seratus persen tahu artinya, setidaknya, aku mengerti beberapa maknanya (atau sebenarnya tidak?). Haha. Simplenya, aku cuma mau bilang begini. Ya mungkin kisahku dan Ikal (tokoh utama dalam novel tersebut) tidak banyak kesamaannya. Tapi bukan berarti tidak ada kesamaan sama sekali. Bagiku, ada beberapa hal yang membuatku merasa "Ah, aku tau rasanya!". Salah satunya, seperti kutipan diatas, untuk bermimpi! Yaps! Meskipun Uwak Weh tidak sedang berbicara merapal kata-kata seperti apa yang ia lakukan untuk Ikal, aku tahu, bahwa takdirku bukan untuk berdiam diri. I would have to explore the world to! Aku harus menjelajahi dunia! Dan dunia yang dimaksud, tentu saja, bukan hanya senyata-nyata dunia yang ada di pikiranmu. Tapi dunia, dimana aku bisa membangun mimpiku setelah aku memelajari banyak hal!

Percayalah, itu bukan satu-satunya mimpiku. Apalagi dunia ini semu. Tentu saja, sang Pencipta yang maha keren telah menciptakan dunia untuk diambil pelajarannya. Dan kamu pasti tidak akan percaya jika yang kumaksudkan juga demikian.

Seorang gadis kecil. Yang keberadaannya bahkan tidak pernah dimimpikan oleh orang-orang disekitarnya, bisa mewujudkan mimpinya sendiri! Mendwasa kemudian mati dengan cara yang dikehendakinya!

".... I realized that I had learned to love my life from a man who hated his own, and Weh was the first person to teach me how to know myself."

Terakhir, kutipan diatas menyadarkanku, untuk mencintai hidup yang sudah digariskan Allah untukku. Tidak lagi berkeluh kesah atas apa-apa yang belum atau bahkan tidak pernah kudapatkan. Seperti Weh yang membenci hidupnya karena ketidakmampuannya melawan sesuatu yang memang bukan lawannya. suatu hari, aku akan membenci diriku sendiri jika berbuat demikian. Tidak perlu disebutkan alasannya. Karena sebenarnya, penyebab aku bisa bertahan sampai saat ini adalah penderitaan skala kecil yang dialami Uwak Weh.

Dan bagi kamu atau siapapun yang sedang membaca tulisan ini, aku hanya ingin berpesan. Seseorang mungkin memang tidak bisa memilih oleh siapa ia dilahirkan, bagaimana jalan cerita yang menunggunya, atau keberuntungan-keberuntungan apa yang akan ia dapatkan setelah ia menatap bumi. Karena percayalah, Sang Khalik telah mengatur semuanya, agar berakhir indah pada waktunya. Kalau belum indah, ya berarti belum berakhir. Hehe.

Kau bilang aku penganut paham optimisme? Haha? Silakan! Selamat bergabung denganku!

0 comment:

Posting Komentar

Drop your coment here! :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Cikalala~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea